Dalam sebuah organisasi, sering kali terjadi persoalan sederhana yang sebenarnya dapat diselesaikan dengan mudah, tetapi justru berkembang menjadi konflik akibat komunikasi yang kurang tepat.
Sebagai contoh, ada seseorang yang meminta izin atau mengajukan suatu permintaan kepada temannya dalam lingkungan kerja. Temannya kemudian menjawab, “Tidak bisa.” Jawaban tersebut disampaikan tanpa penjelasan lebih lanjut mengenai alasan penolakan atau kemungkinan solusi yang dapat ditempuh. Akibatnya, orang yang meminta merasa tidak dihargai atau merasa dipersulit, sedangkan pihak yang menolak mungkin merasa dirinya hanya menjalankan aturan dan kewenangan yang ada.



